Sabtu, 01 Februari 2025

Sistem Pertanian Indonesia Perlu Bertransformasi, Perkuat Ekonomi hingga Jaga Ketahanan Pangan

 


Sistem pertanian Indonesia dinilai perlu bertransformasi seiring munculnya pandemi dan dampak perubahan iklim.


Unsur keberlanjutan harus dikedepankan dalam sistem transformasi pertanian, agar mampu mengatasi berbagai tantangan dan mencapai ketahanan pangan.


Transformasi ini sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025-2045.


Salah satu tujuan utamanya adalah memperkuat ekonomi Indonesia melalui pengelolaan sumber daya pangan dan komoditas degan lebih baik.


“Untuk mendukung transformasi ini, diperlukan juga fokus pada perbaikan sistem informasi, blue food, serta susut dan limbah pangan."


"Hal ini juga menjadi bagian dari ekonomi sirkular yang sudah dirumuskan oleh Pemerintah,” ujar Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas Jarot Indarto, dalam keterangan resminya, Minggu 2 Januari 2025.


Transformasi sistem pangan menuju arah yang lebih berkelanjutan harus segera dimulai untuk memastikan ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat Indonesia.


Ini merupakan agenda prioritas pemerintah Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.


Sejauh ini, prevalensi kurang gizi masih tinggi, yaitu 6,5 persen, dan stunting pada anak-anak mencapai 31,8 persen.


Indonesia juga menempati peringkat terakhir (23 dari 23 negara) dalam hal ketersediaan pangan di Asia-Pasifik (GFSI, 2022).


Ini menunjukkan masih lemahnya ketahanan pangan dan sulitnya mendapatkan nutrisi yang baik di Indonesia.


Untuk mengatasi tantangan di kelangsungan sektor pertanian, transformasi sistem pangan perlu memprioritaskan inovasi untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan,” jelas CEO Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Anton Rizki.


Transformasi sistem pangan diharapkan dapat meningkatkan status gizi masyarakat.


Tren konsumsi pangan yang semakin meningkat perlu diimbangi dengan ketersediaan pangan yang memadai.


Jika tidak, potensi kesenjangan akan mempengaruhi status gizi dan asupan kalori masyarakat.


Tiga beban malnutrisi, yaitu underweight, obesitas, dan defisiensi mikronutrien masih menjadi masalah besar.


Makanan bernutrisi belum terjangkau oleh banyak orang, menambah urgensi adanya transformasi sistem pertanian.


Pertanian domestik menghadapi banyak tantangan, sementara impor pangan pun dibatasi.


Hal ini membatasi pilihan dan akses masyarakat Indonesia terhadap makanan yang terjangkau, bernutrisi dan berkualitas.


Menurut Anton, transformasi sistem pertanian juga bertujuan untuk mengurangi kehilangan pangan (food loss).


Hal ini merupakan salah satu kendala dalam mewujudkan ketahanan pangan dan gizi yang berkelanjutan.


Transformasi mendesak diperlukan untuk untuk mengurangi risiko krisis pangan di masa depan.


Sistem pertanian sebaiknya menerapkan strategi mitigasi dan adaptasi perubahan lingkungan.


Penggunaan cara-cara bertani yang malah merusak lingkungan perlu segera dihentikan.

Sistem pertanian idealnya mengadaptasi keterbatasan lahan dengan memaksimalkan penggunaan lahan yang ada.


Di antaranya, melalui penggunaan input pertanian berkualitas dan menggencarkan pembangunan infrastruktur pendukung pertanian.


Anton menekankan bahwa perlu ada peningkatan investasi pada penelitian dan pengembangan (R&D) sektor pertanian dan pengembangan kerangka kerja yang mendukung pendekatan pertanian yang sehat, inovatif, dan berkelanjutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar